Ketika Anak Meminta pada Orangtuanya, Wajarkah?



Duniaanak - Sudah hal yang lumrah dan wajar ketika anak meminta sesuatu kepada orangtuanya. Terkadang anak juga punya keinginan, baik berupa barang maupun aktivitas tertentu. Apalagi jika anak akrab dengan lingkungan di sekitarnya, tak jarang anak akan menginginkan sesuatu hal yang serupa dengan yang dimiliki oleh temannya.

Anak biasanya akan menginginkan sesuai dengan apa yang dilihat dan didengarnya. Mereka akan berusaha memiliki apa yang diinginkannya tersebut, salah satunya dengan meminta kepada orangtua.

Ada sebuah studi penelitian yang menyebutkan bahwa "tidak penting kepribadian teman sepermainan, yang terpenting adalah aktivitas dan mainan apa yang sama-sama dimiliki dan dapat dimainkan bersama-sama. Jika ini tidak terpenuhi salah satunya, bukan tidak mungkin pertemanan itu akan rusak." (Rieno, d:2016) 

Banyak orangtua yang kurang senang jika anaknya meminta sesuatu. Apalagi jika memintanya diiringi dengan rengekan dan sedikit memaksa. Orangtua merasa risih dan kesal jika permintaan anak terkadang di luar batas kemampuan orangtua untuk mendapatkannya.

Orangtua menganggap anak tidak memahami keadaan keuangan keluarga, tidak peduli dengan kesusahan orangtua, dan bahkan ada orangtua yang begitu kesalnya melampiaskan dengan amarah dan main tangan pada anak.

Miris. Padahal, orangtua yang bijak akan menganggap permintaan anak adalah doa. Tinggal bagaimana orangtua memberi pengertian jika memang belum bisa dipenuhi dalam waktu dekat. Di sisi lain, anak yang berani menyampaikan keinginannya kepada orangtua justru adalah salah satu ciri anak yang open minded  Anak yang demikian biasanya lebih mandiri, jujur, terbuka dan mampu bersosialisasi dengan baik. Orangtua harusnya lega ketika anak mau dan berani mengutarakan keinginannya. Bayangkan, jika anak senantiasa memendam sendiri apa yang menjadi keinginannya, mereka cenderung akan mengambil langkah sendiri tanpa sepengetahuan orangtua. Tentu saja ini akan lebih berisiko berbahaya. Orangtua tidak bisa mengetahui dan mengontrol keinginan anak.

Lantas, apa yang harus dilakukan orangtua?

Saya pernah mendengar pernyataan komedian Tukul Arwana di salah satu acara di televisi, intinya dia mengungkapkan bahwa ketika anak meminta itu harus kita aminkan. Kita tidak pernah tahu jika itu nanti akan menjadi kenyataan. Yang terpenting adalah jangan menolak permintaan anak apalagi sampai memarahinya. Jika orangtua belum mampu memenuhi keinginan anak dalam waktu dekat, cukup yakinkan kepada anak, jika ada rejeki dan kesempatan mudah-mudahan akan terkabul. Selanjutnya ajak anak untuk berdo'a agar keinginannya itu terkabul.
Saya yakin, selama orangtua bisa memberikan jawaban yang menenangkan, anak pasti akan memahami jika keinginannya memang belum dapat terealisasi.

Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua tatkala anak meminta sesuatu :

Pertama, dengarkan anak. Jadilah pendengar yang baik. Ketika anak berbicara mengutarakan keinginannya, beri dia ruang dan waktu. Jangan potong pembicaraan apalagi mematahkan keinginan anak.

Kedua, beri jawaban yang menenangkan. Jika memang keinginan anak bisa dipenuhi dalam waktu dekat, maka penuhilah. Namun jika tidak, maka berilah jawaban yang menenangkan. Yakinkan pada anak, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Jika tidak terpenuhi sekarang, bisa saja suatu saat nanti akan terpenuhi. Ajari anak untuk tidak lekas putus asa. Anak harus turut berusaha mewujudkan keinginannya itu, misalnya dengan rajin belajar atau berusaha dengan bersungguh-sungguh.

Ketiga, ajak anak untuk berdo'a. Jadikan ini sebagai momen untuk mendekatkan anak pada orangtua dan Tuhan. Bahwa segala keinginan kita hanya Tuhan yang mampu mewujudkannya. Tanpa Tuhan, semua akan sia-sia.

Keempat, aminkan dalam hati. Jadi, ketika anak meminta, jangan lantas dimarahi atau mengomel segala sesuatu yang justru menunjukkan bahwa kita tidak percaya akan kuasa Tuhan. Tersenyumlah dan aminkan dengan tulus dalam hati.

Kelima, beri pengertian dengan bahasa yang lembut dan hangat. Percayalah, kelembutan dan kehangatan akan mampu meruntuhkan hati yang paling keras sekali pun. Begitu juga dengan meluluhkan hati anak yang mungkin terlanjur menginginkan sesuatu namun kita belum mampu memenuhi. Beri ia pengertian dan pelukan hangat tanpa mematahkan keinginannya daripada memarahi dan membentaknya.

Keenam, pahami bahwa anak punya keinginan. Tidak perlu merasa khawatir berlebihan ketika anak menginginkan apa yang dimiliki temannya namun tak dimilikinya. Selama keinginan itu dalam batas kewajaran itu normal. Sekali lagi, kemampuan anak dalam berkeinginan adalah sebatas apa yang dilihat dan didengarnya, maka tak heran jika anak kerap menginginkan seperti apa yang dimiliki temannya. Di situasi seperti ini, anak juga belajar bagaimana mengaktualisasikan dirinya terhadap lingkungannya. Mereka juga punya kebutuhan untuk eksis dan diterima dengan baik di lingkungannya. Jika masih memungkinkan untuk dipenuhi, tidak ada salahnya memenuhi. Namun jika tidak maka bijaklah dalam memberi pengertian padanya.

Ketujuh, berikan apresiasi. Selama orangtua belum mampu memenuhi keinginan anak, tidak perlu dipaksakan sedemikian rupa. Hal yang dipaksakan juga tidak baik. Ajarkan anak untuk bisa Legawa menerima keadaan. Tumbuhkan kepercayaan dirinya meski belum memiliki apa yang diinginkannya. Bahwa ia masih memiliki hal lain yang bisa dibanggakan. Ketika anak memahami dan menunjukkan sikap yang kooperatif maka jangan lupa untuk mengapresiasi dengan memberinya pujian serta pelukan hangat.

Nah, bagaimana ? masih merasa kesal dan risih kalau anak meminta sesuatu kepada kita sebagai orangtua ? Cobalah untuk menjadi orangtua yang bijak, tanyakan pada diri sendiri "kalau bukan kepada orangtuanya, lantas kepada siapa lagi anak meminta ?"


Fifin Nurdiyana