Cara Memberi Tahu Anak Tanpa Membentak



Duniaanak - Beberapa orangtua terbiasa terkadang membentak anaknya ketika rewel atau berperilaku kurang baik.

Hal itu umumnya terjadi ketika orangtua sudah kehilangan kesabaran atau sedang merasa lelah setelah seharian bekerja.

Membentak memang membuat anak menjadi patuh dan mudah diatur. Tapi, cara ini bukanlah pola yang tepat untuk mendidik anak, lho!

"Anak-anak seperti spons. Mereka menangkap bahasa tubuh dan isyarat verbal kita (orangtua),” kata dokter anak, Kimberly Churbock, MD.

“Jadi, ketika kita marah atau cemas, mereka mungkin menangkapnya dan menjadi bingung atau takut atau tidak tahu bagaimana harus merespons."

Mendidik anak tidak harus dengan membentak

Membentak atau berbicara dengan nada tinggi kepada anak sesekali diperlukan supaya ia mengerti apa yang diinginkan orangtuanya.

Tapi, kalau dilakukan terus-menerus tentu cara itu tidaklah baik. Jadi, orangtua harus berusaha memberi tahu anak tanpa membentak. Caranya?

1. Mulai bersikap positif

Anak umumnya mengalami kesulitan mengatur emosinya. Anak cenderung melihat bagaimana sikap orangtua ketika menunjukkan emosi.

Hal itu merupakan siklus yang kemudian akan masuk ke dalam diri anak.

Sebaiknya, orangtua mulai belajar untuk mengendalikan situasi saat anak susah diatur atau rewel.

Daripada membentaknya secara langsung, dekati anak dengan sikap yang tenang dan ia mungkin bersikap dengan cara yang sama.

Penting juga untuk memberi apresiasi kepada anak apabila ia sudah berperilaku baik, misalnya tidak rewel saat diajak pergi ke mall.

“Penguatan positif dan pujian atas perilaku yang diinginkan jauh lebih efektif daripada komunikasi mendisiplinkan yang negatif,” catat Churbock.

2. Harus sabar

Sabar memang ada batasnya. Tapi, itu tergantung dari bagaimana cara orangtua mengatur emosinya supaya tidak meledak-ledak saat memberi tahu anak.

Seperti yang sudah disebutkan, anak akan menangkap nada dan bahasa tubuh dari orangtua.

“Kita harus memperhatikan kata-kata dan bahasa tubuh kita. Apakah kita berinteraksi langsung dengan anak atau dengan orang dewasa dan pengasuh lainnya,” saran Churbock.

Bersabar, kata dokter anak asal Cleveland Clinic tersebut, mungkin sulit dilakukan bagi orangtua yang menerapkan co-parenting atau mengasuh anak tiri dari pasangannya.

Tapi dengan mengontrol emosi dan tidak sembarangan bertutur kata akan membantu orangtua mengendalikan situasi saat berbicara dengan anak.

3. Stop berteriak

Kata-kata orangtua dapat membekas di hati dan pikiran anak apabila ia mendapat perlakuan yang kasar.

Seiring bertambahnya usia, buah hati akan memiliki nada dan kosakata sendiri untuk mengungkapkan keinginan dan kebutuhan.

Itu didapat dari cara orangtua membentak atau berteriak saat memberi tahunya di masa lalu.

Daripada memberi tahu anak dengan cara berteriak, lebih baik bicaralah dengan penuh kesabaran.

Anak mungkin menunjukkan reaksi yang sama seperti yang dilakukan orangtuanya.

4. Beri anak pilihan

Cara ini disebut Churbock sebagai trik untuk memberi anak rasa percaya diri dan kendali walau orangtua memintanya melakukan tugas yang tidak diinginkan.

Misalnya dengan memberi kesempatan bagi anak untuk membawa mainan favoritnya apabila ia susah diajak untuk mandi.

Tapi, ketika anak rewel jangan selalu menuruti keinginannya, ya. Sebab anak bisa menganggapnya sebagai cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.

5. Punya batas

Anak biasanya merespons dengan baik jika orangtua memberinya kesempatan untuk berbuat baik.

Daripada membentak atau berteriak ada baiknya orangtua menghitung dengan suara keras sampai lima atau beri anak batas waktu untuk melakukan apa yang diminta.

Dengan memperjelas bahwa ada batasan untuk tindakan anak, orangtua dapat membalikkan keadaan sesuai keinginannya.

Menghadapi anak terkadang membutuhkan kesabaran yang ekstra, tapi orangtua sebagai sosok yang lebih tua harus memasuki setiap situasi dengan pikiran terbuka.

Bersikaplah tenang dan stabilkan emosi. Mulailah komunikasi secara terbuka untuk memberi anak kesempatan untuk merespons dengan baik.