Dongeng Anak: Kisah Burung Jalak dan Buaya



Duniaanak - Pada zaman dahulu buaya terkenal sebagai binatang yang bergigi paling bersih dan putih, seputih kapas. Amboi, bagusnya! Ya, tentu saja karena mereka rajin menggosok gigi mereka. Ya, setiap pagi dan malam.

"Treekk... trekk," terdengar suara ranting pohon dipatahkan. Memang Buaya selalu mematahkan ranting pohon sebelum menyikat gigi. Ranting ini kemudian dijadikan sikat gigi. Haaaa, haaaa lucu sekali.

Setiap hari mereka melakukan hal itu. Lama kelamaan pohon menjadi gundul. Ia tak mempunyai ranting lagi. Ini berarti buaya tak bisa menyikat gigi. Berhari-hari mereka mencari akal, tetapi tak dapat juga.

Dari hari ke hari gigi buaya menjadi kuning. Banyak sisa-sisa makanan yang berkumpul di celah-celah gigi. Tapi mereka tak dapat membersihkannya. Lama kelamaan gigi mereka pun sakit bahkan ada beberapa yang tanggal. Kasihan sekali. Padahal gigi adalah senjata mereka untuk menangkap mangsa.

"Chrisi, yuk kita main," ajak seekor burung jalak pada suatu hari.

“Ah, malas! Gigiku sakit," sahut Chrisi.

"Lho, memangnya...," Burung Jalak hinggap di kepala Chrisi. "Aduuuuh, mulutmu bau. Tidak pernah sikat gigi, ya!"

Chrisi mengangguk, lalu menceritakan kenapa ia selama ini tak pernah sikat gigi.

Mendengar kesulitan sahabatnya, si Burung Jalak ikut prihatin juga. Ia mencari jalan, untuk membantu Chrisi.

"Ah, aku ada akal! Bagaimana kalau aku yang membersihkan gigimu?" tanya si Burung Jalak.

"Mau! Tentu saja aku!" jawab Chrisi gembira. "Tapi bagaimana?"

"Sudahlah, buka saja mulutmu!"

Burung Jalak lalu mulai mematuki kotoran-kotoran yang ada di gigi Chirisi. "Ckk... ckk" terdengar suara paruh Burung Jalak beradu dengan gigi Chirisi. Burung Jalak cepat sekali kerjanya. Tak sampai lima menit gigi Chrisi sudah tampak putih lagi.

"Sudah selesai, tuan Raja!" si Burung Jalak menggoda sahabatnya seraya hinggap di kepalanya.

"Terima kasih, Jalak sahabatku! Lain kali kalau kau memerlukan bantuanku, pasti aku akan membantumu," janji Chrisi. Ya, bukankah dalam hidup ini kita harus saling membantu.

"Ya! Sampai besok Chrisi," si Burung Jalak terbang entah ke mana.

Dengan gembira Chrisi pergi ke tempat sahabat-sahabatnya. "Hei, kawan-kawan lihat gigiku. Putih dan tidak sakit lagi," Chrisi lalu menceritakan perihal si Burung Jalak.

"Kalau begitu, katakan pada temanmu agar ia dan sahabat-sahabatnya menolong kami juga. Kalau tidak gigi kami pasti akan ompong semua," kata beberapa ekor buaya.

Keesokan harinya, Chrisi menyatakan keinginannya kepada si Burung Jalak. Ternyata si Burung Jalak memang sahabat yang baik.

Ia memanggil kawan-kawannya untuk membersihkan gigi kawan-kawan Chrisi. Sejak saat itu setiap hari burung-burung Jalak datang membersihkan gigi buaya-buaya. Setelah selesai mereka bermain bersama. Mereka tampak rukun sekali. (Sarah Nafisah)